Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Darurat Karhutla Kalimantan Tengah: 12 Orang Utan di Kobar Berhasil Dievakuasi dari Kepungan Api

✍️ M Fadli 🕒 28 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Tim BKSDA Kalteng evakuasi orang utan di lahan sisa terbakar di Kobar beberapa waktu lalu.
Tim BKSDA Kalteng evakuasi orang utan di lahan sisa terbakar di Kobar beberapa waktu lalu. Foto: BKSDA Kalteng

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Tengah tidak hanya meninggalkan persoalan kerusakan ekologis serta pekatnya kabut asap yang mengganggu pernapasan. Lebih dari itu, bencana musiman ini telah menjelma menjadi ancaman nyata yang sangat mematikan bagi kelangsungan hidup berbagai jenis satwa liar endemik. Salah satu dampak paling mengkhawatirkan adalah terdesaknya populasi orang utan keluar dari habitat asli mereka akibat keppungan api yang kian tak terkendali.

Sebagai langkah tanggap darurat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah mencatat telah berhasil menyelamatkan sebanyak 12 individu orang utan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Seluruh satwa dilindungi tersebut berhasil dievakuasi dari berbagai titik rawan serta kawasan konservasi penting selama kurun waktu tiga bulan berturut-turut, yakni terhitung sejak periode Agustus hingga Oktober 2026.

Jumlah total individu yang diamankan tersebut mencakup sejumlah satwa yang sebelumnya terjebak di dalam kawasan konservasi vital, termasuk di antaranya yang berasal dari area Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Kawasan konservasi yang selama ini dikenal sebagai salah satu suaka margasatwa terbesar dan paling diandalkan bagi perlindungan primata dunia tersebut, kini turut menjadi sasaran empuk amukan si jago merah seiring dengan meluasnya titik panas di wilayah Kalimantan Tengah.

Menanggapi situasi darurat ini, Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Pangkalan Bun, Handi Nasoka, menyampaikan bahwa penyelamatan belasan orang utan itu merupakan bagian dari intensifikasi penanganan serta perlindungan satwa liar di wilayah setempat. Menurutnya, tim lapangan terus bergerak aktif menyisir kawasan-kawasan pinggiran hutan yang berbatasan langsung dengan titik api guna memastikan tidak ada satwa terisolasi yang luput dari jangkauan pertolongan.

Lebih lanjut, Handi menjelaskan bahwa eskalasi kebakaran hutan memberikan tekanan psikologis dan fisik yang luar biasa bagi satwa-satwa endemik. Kehilangan tutupan kanopi hutan memaksa primata berbulu kemerahan ini kehilangan sumber pakan alami sekaligus kehilangan rumah tempat mereka biasa berlindung. Tidak jarang, individu orang utan terlihat kebingungan memasuki area perkebunan warga hingga mendekati badan jalan raya trans-regional demi mencari keselamatan diri dari kepungan asap tebal dan jilat api.

Kondisi tersebut tentu memunculkan kerentanan baru yang membahayakan keselamatan satwa maupun keselamatan para pengguna jalan raya. Oleh karena itu, pihak BKSDA terus mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya warga yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan Kobar, agar segera melapor apabila mendapati satwa liar keluar dari habitatnya. Warga diminta untuk tidak melakukan tindakan evakuasi mandiri yang justru berisiko mencederai satwa atau memicu konflik antara manusia dan satwa liar.

Di sisi lain, masifnya kejadian karhutla di Kabupaten Kotawaringin Barat juga mencatatkan angka kerusakan lahan yang cukup fantastis. Berdasarkan data pemantauan lapangan, luas lahan yang terbakar di sejumlah titik kawasan konservasi telah mencapai ratusan hektare, memaksa berbagai elemen instansi pemerintah, Tim Manggala Agni, kepolisian, hingga unsur relawan berjibaku siang dan malam melakukan pemadaman darurat di tengah medan yang sulit serta tebalnya kabut asap.

Upaya pemulihan ekosistem pasca-karhutla diprediksi memerlukan waktu dan konsistensi yang panjang. Hilangnya vegetasi hutan primer tidak hanya berdampak pada satu atau dua jenis satwa saja, melainkan merusak seluruh rantai makanan di dalam ekosistem hutan hujan tropis Kalimantan. Oleh sebab itu, keberhasilan evakuasi 12 individu orang utan ini menjadi secercah harapan sekaligus pengingat penting bahwa perlindungan terhadap kelestarian lingkungan hidup dan pencegahan karhutla harus menjadi prioritas kolektif demi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia.

MF
M FadliEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update