Helikopter TNI AD Jatuh Saat Misi Karhutla di Kalteng, Dua Kru Meninggal
monitorkayong.com – Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali diwarnai insiden tragis. Sebuah helikopter Mi-17V5 milik Penerbangan TNI Angkatan Darat (AD) jatuh di perairan Pematang Limau, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11/2026).
Helikopter dengan nomor registrasi HA-5235 tersebut membawa delapan personel saat menjalankan misi penanganan karhutla. Dalam insiden itu, dua kru dipastikan meninggal dunia, lima lainnya berhasil dievakuasi untuk mendapatkan perawatan, sedangkan satu personel masih dalam pencarian.
Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin, menjelaskan helikopter tersebut sedang menjalankan tugas penanganan kebakaran hutan dan lahan di sekitar kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Pesawat dilaporkan mengalami kecelakaan sekitar pukul 11.00 WIB setelah bertolak dari Bandara Kuala Pembuang menuju Telaga Pulang.
Lokasi jatuhnya helikopter diperkirakan berada di perairan sekitar satu kilometer dari bibir pantai Pematang Limau.
"Dua orang dipastikan meninggal. Satu ini masih dalam pencarian. Kemungkinan masih dalam pesawat," ungkap Zainul kepada awak media di RSUD Kuala Pembuang, Rabu malam.
Delapan personel yang berada dalam helikopter tersebut terdiri atas pilot Mayor Cpn Dudi, kopilot Lettu Cpn Hafiz, Kapten Cpn Febri, Kapten Cpn Suganda, Lettu Cpn Fercis, Pratu Gilang, Serda Sardi, dan Serka Kadiya.
Lahan Terbakar di Enam Provinsi Capai 2.835 Hektare
Di tengah upaya penanganan karhutla, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Selasa (3/11/2026) mencatat luas lahan terbakar di enam provinsi mencapai 2.835 hektare.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 2.195 hektare. Berikutnya Kalimantan Selatan dengan 400 hektare dan Kalimantan Barat mencapai 149 hektare.
Data tersebut menunjukkan ancaman karhutla masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah, khususnya Pulau Kalimantan.
BRIN Kembangkan Teknologi Modifikasi Cuaca Menggunakan Drone
Selain mengandalkan operasi pemadaman konvensional, pemerintah mulai mengembangkan teknologi untuk mendukung penanganan karhutla.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, memperkenalkan inovasi operasi modifikasi cuaca menggunakan pesawat nirawak atau drone bernama DumaKron.
Teknologi tersebut memanfaatkan garam natrium klorida (NaCl) berukuran sangat kecil, yakni sekitar 2–5 mikron, yang disebarkan melalui drone untuk mendukung proses penyemaian awan.
Selama ini, operasi modifikasi cuaca umumnya menggunakan pesawat berawak. Penggunaan drone diharapkan dapat menjadi alternatif dengan biaya operasional yang lebih efisien.
"Dengan DumaKron ini, pelaksanaannya pasti lebih efisien, lebih murah, dan lebih efektif," jelas Arif.
Rencananya, penerapan teknologi tersebut akan dilakukan di wilayah Kalimantan sebagai bagian dari pengembangan metode modifikasi cuaca.
Indonesia-Singapura Bahas Kerja Sama Penanganan Karhutla
Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat koordinasi lintas kementerian dan kerja sama internasional untuk menangani persoalan karhutla.
Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menggelar pertemuan bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat untuk membahas pembentukan satuan tugas bersama Indonesia-Singapura.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat penanganan karhutla, termasuk mengatasi praktik bisnis yang tidak bertanggung jawab dan berpotensi menimbulkan kebakaran hutan serta lahan di Indonesia.
"Untuk memutus mata rantai praktik bisnis yang tidak bertanggung jawab, diperlukan sinergi seluruh kementerian dan lembaga terkait serta kerja sama yang baik dengan negara mitra," tegas Arrmanatha.
Reboisasi Jadi Bagian Pemulihan Kawasan Hutan
Sementara itu, dampak kebakaran hutan juga menjadi perhatian di wilayah Jawa Timur. Dinas Kehutanan Jawa Timur mencatat sekitar 13.574 hektare kawasan hutan dan konservasi terbakar hingga akhir Oktober 2026.
Kerusakan terluas tercatat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan 3.531 hektare, disusul kawasan Perhutani Jawa Timur seluas 3.440,81 hektare dan Taman Nasional Baluran mencapai 3.415,91 hektare.
Pemerintah daerah merencanakan rehabilitasi melalui penanaman kembali di kawasan tangkapan air, sekitar mata air, serta lereng pegunungan yang rawan mengalami erosi.
Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur, Jumadi, mengatakan penanaman serentak dijadwalkan berlangsung saat puncak musim hujan agar bibit yang ditanam memiliki peluang tumbuh lebih baik.
"Penanaman serentak dijadwalkan dimulai pada puncak musim hujan agar tingkat keberhasilan tumbuhnya bibit optimal," ujarnya.
Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan pemadaman ketika kebakaran terjadi, tetapi juga dukungan teknologi, pengawasan aktivitas usaha, kerja sama lintas negara, dan pemulihan kawasan hutan yang terdampak.
