Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Teknologi
Teknologi

Saham Teknologi Berguguran, Nasdaq Anjlok 1,38 Persen di Wall Street

✍️ Yuliana 🕒 30 Oct 2026 👁️ 6x dibaca
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (29/10/2026).
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Foto: istimewa

monitorkayong.com – Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Tekanan terutama datang dari saham perusahaan teknologi berkapitalisasi besar setelah sejumlah emiten merilis laporan keuangan kuartal III-2026 yang tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi pasar.

Indeks Nasdaq Composite mengalami koreksi paling dalam dengan turun 1,38 persen ke level 26.184,72. Sementara indeks S&P 500 melemah 0,3 persen menjadi 7.720,39 sekaligus menghentikan tren penguatan selama tiga hari berturut-turut.

Pelemahan juga terjadi pada Dow Jones Industrial Average yang terkoreksi 132,54 poin atau 0,25 persen ke posisi 52.342,56.

Pergerakan ketiga indeks tersebut menunjukkan tekanan investor terhadap sejumlah saham unggulan, khususnya perusahaan teknologi yang memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan pasar saham Amerika Serikat.

Alphabet dan Caterpillar Jadi Pemberat Pasar

Salah satu perusahaan yang memberikan tekanan besar terhadap perdagangan adalah Alphabet, induk perusahaan Google. Saham Alphabet merosot sekitar 12 persen setelah laporan keuangan kuartal III-2026 menunjukkan laba per saham yang disesuaikan dan pendapatan berada di bawah perkiraan analis.

Tekanan juga dialami Caterpillar. Saham perusahaan tersebut turun lebih dari 9 persen dan mencatatkan pelemahan terdalam sejak Maret 2020.

Sementara itu, Microsoft turut mengalami penurunan setelah sempat bergerak positif pada awal perdagangan.

Padahal, perusahaan teknologi tersebut mencatatkan kinerja bisnis infrastruktur komputasi awan Azure yang mendorong pendapatan dan laba melampaui perkiraan analis pada kuartal pertama tahun fiskal yang berakhir September 2026.

Namun, perhatian investor justru tertuju pada rencana belanja modal Microsoft yang lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai kesiapan perusahaan penyedia infrastruktur dalam memenuhi kebutuhan kapasitas pusat data untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Saham Infrastruktur AI Ikut Terkoreksi

Kekhawatiran investor turut menjalar ke perusahaan yang bergerak dalam penyediaan infrastruktur komputasi awan.

CoreWeave mengalami penurunan saham sekitar 5 persen. Sementara Nebius mencatat pelemahan lebih dari 5 persen.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa prospek bisnis kecerdasan buatan tidak hanya bergantung pada pertumbuhan pendapatan perusahaan teknologi besar, tetapi juga pada kemampuan investasi dan kesiapan infrastruktur pendukung.

Belanja modal menjadi salah satu perhatian penting karena pengembangan AI membutuhkan kapasitas pusat data, komputasi, serta infrastruktur teknologi dalam skala besar.

Investor Mulai Selektif Memilih Saham

Kepala Strategi Pasar B. Riley Wealth Management, Art Hogan, menilai kondisi perdagangan saham teknologi pada Oktober hingga menjelang November menunjukkan kestabilan yang lebih baik dibandingkan periode Agustus dan September.

Meski demikian, investor kini semakin selektif dalam menentukan perusahaan yang menjadi tujuan investasi.

"Menurut saya, kondisi perdagangan saham teknologi pada Oktober dan menjelang November lebih baik dan lebih stabil dibandingkan dengan Agustus dan September. Namun, investor kini menjadi jauh lebih selektif," ujar Hogan.

Sikap selektif tersebut menunjukkan bahwa investor tidak lagi hanya melihat besarnya potensi pertumbuhan perusahaan teknologi, tetapi juga memperhatikan kinerja keuangan, rencana investasi, serta kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan.

Pelemahan Wall Street pada perdagangan kali ini menjadi gambaran bahwa perkembangan industri kecerdasan buatan masih menghadirkan tantangan bagi pasar modal global, terutama ketika ekspektasi pertumbuhan tidak sepenuhnya sejalan dengan realisasi kinerja perusahaan.

Y
YulianaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update