Sabtu, 24 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

644 Pohon Produktif Ditanam di Perbatasan Indonesia-Malaysia, Libatkan Masyarakat dan Aparat

✍️ Yuliana 🕒 05 Oct 2026 👁️ 7x dibaca
Gempur tanam pohon produktif di batas negari untuk pelestarian
Gempur tanam pohon produktif di batas negari untuk pelestarian Foto: istimewa

monitorkayong.com – Sebanyak 644 bibit pohon produktif ditanam di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, Kecamatan Paloh, Kalimantan Barat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong pemanfaatan lahan yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Gerakan bertajuk “Gempur Batas Negeri” itu dilaksanakan di sejumlah titik, mulai dari Desa Temajuk hingga Desa Sebubus. Penanaman melibatkan masyarakat, kelompok pengelola hutan, mahasiswa, pemerintah desa, aparat keamanan, hingga unsur yang berada di kawasan perbatasan.

Pembina Gempur Kalimantan, Albertus Tjiu, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada jumlah pohon yang berhasil ditanam. Menurutnya, keberlanjutan tanaman dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari gerakan tersebut.

“Menanam pohon bukan hanya soal menambah vegetasi, tetapi juga menumbuhkan kepedulian dan rasa memiliki masyarakat terhadap lingkungan dan memberikan tambahan nilai manfaat,” ujar Albertus di Pontianak, Minggu.

Dari total 644 bibit, sebanyak 325 ditanam di Desa Temajuk, sedangkan 319 bibit lainnya dihibahkan kepada pengurus Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Prasak di Dusun Cermai, Desa Sebubus.

Bibit yang ditanam terdiri atas berbagai jenis tanaman produktif, di antaranya durian, matoa, rambutan, cempedak, kopi, jengkol, petai, sirsak, langsat, dan kluwih.

HTR Prasak sendiri memiliki 25 anggota yang mengelola kawasan seluas sekitar 800 hektare. Sebagian besar kawasan tersebut telah dimanfaatkan untuk perkebunan, sementara sekitar 50 hektare disiapkan untuk pengembangan tanaman produktif.

Selain tanaman produktif, kegiatan juga menyasar kawasan pesisir Sungai Belacan dengan melibatkan Kelompok Masyarakat Wahana Bahari Sungai Belacan dan mahasiswa Politeknik Negeri Sambas.

Di kawasan tersebut, pohon cemara ditanam untuk memperkuat vegetasi pesisir sekaligus mendukung kawasan pantai yang menjadi lokasi peneluran penyu.

Albertus menilai kawasan perbatasan memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar wilayah yang berkaitan dengan aspek teritorial dan keamanan. Menurutnya, masyarakat, hutan, pesisir, serta sumber daya alam di wilayah tersebut perlu dijaga secara bersama-sama.

“Perbatasan bukan sekadar garis batas teritorial dan keamanan. Ada masyarakat, hutan, pesisir, dan kekayaan alam yang harus dijaga bersama,” katanya.

Kegiatan penanaman turut mendapat dukungan Badan Pengelola Perbatasan Daerah Provinsi Kalimantan Barat, KPH Sambas, pemerintah desa, personel Pamtas TNI AD, Karang Taruna Temajuk, Pokdarwis Temajuk, Poltesa, serta sejumlah unsur otoritas perbatasan Indonesia dan Malaysia.

Dalam kegiatan tersebut, personel Jabatan Imigresen Malaysia juga ikut menanam pohon durian dan matoa di Desa Temajuk.

Setelah penanaman, Gempur Kalimantan akan melakukan pemantauan pertumbuhan tanaman, dokumentasi, dan evaluasi keberhasilan. Kelompok masyarakat yang menjadi pengelola tanaman juga akan mendapat penguatan kapasitas agar keberlanjutan program dapat terjaga.

Gerakan tersebut turut melahirkan inisiatif “Gempur Muda Perbatasan” yang menjadi wadah bagi generasi muda untuk ikut berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia.

Y
YulianaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update