Sabtu, 24 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Ancaman Asap Karhutla Memicu Lonjakan ISPA: Ini Kelompok Rentan, Gejala, dan Langkah Pencegahan

✍️ M Fadli 🕒 20 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
ISPA
ISPA Foto: GettyImages

Ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) meningkat signifikan di berbagai wilayah Indonesia seiring merebaknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kabut asap pekat yang membawa partikel kimia berbahaya dan particulate matter (PM2.5) kini mencemari kualitas udara dan mengancam daya tahan tubuh masyarakat secara luas. Merespons kondisi kritis ini, Kementerian Kesehatan bersama dinas kesehatan daerah mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, mengenali gejala awal penyakit, serta menerapkan langkah mitigasi ketat guna menekan dampak buruk paparan polusi udara.

Sebagai langkah penanganan cepat di wilayah terdampak parah, pemerintah telah menyalurkan bantuan medis dan logistik kesehatan secara intensif. Bantuan tersebut difokuskan pada daerah-daerah yang mencatatkan tingkat kepekatan asap paling tinggi.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, pemerintah akan menyalurkan obat-obatan untuk menangani ISPA serta membagikan masker kepada masyarakat di wilayah yang terdampak polusi asap.

Upaya pendistribusian obat-obatan dan masker tersebut diprioritaskan melalui fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama untuk memastikan keterjangkauan bantuan bagi seluruh warga.

“Kita sudah bagi obatnya maupun masker ke segala tempat karena ini bencana akibat kebakaran yang makin luas tetapi yang sekarang tinggal berat di mana? Sumatera Selatan sama Kalteng,” katanya.

Respon Pemerintah dan Kesiapsiagaan Medis

Di tengah lonjakan angka kesakitan, fokus pemerintah tidak hanya tertuju pada penanganan medis secara langsung, melainkan juga pada penguatan edukasi masyarakat. Edukasi mengenai pentingnya penggunaan alat pelindung diri dan pembatasan aktivitas luar ruang menjadi fokus utama guna mencegah keparahan infeksi.

Benjamin mengatakan, masyarakat perlu memahami langkah perlindungan diri, termasuk menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk.

Upaya penanggulangan dampak karhutla ini membutuhkan sinergi lintas sektor, termasuk peran aktif dari puskesmas dan rumah sakit di daerah terdampak dalam merespons pasien dengan keluhan pernapasan.

Dampak Kabut Asap Karhutla terhadap Pernapasan

Karhutla menghasilkan asap tebal yang mengandung gas beracun seperti karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), serta partikel mikroskopis PM2.5. Ketika terhirup masuk ke dalam saluran pernapasan, partikel-partikel ini dapat mengiritasi dinding tenggorokan, saluran napas, hingga paru-paru.

Dampak paparan asap ini tidak hanya menimbulkan gangguan pernapasan jangka pendek, tetapi juga dapat memperburuk kondisi penderita penyakit kronis. Paparan berulang-ulang tanpa perlindungan yang memadai berpotensi menurunkan fungsi paru secara permanen serta memicu komplikasi infeksi paru-paru yang lebih berat.

Kelompok Rentan Terhadap Paparan Asap

Meski asap karhutla membahayakan siapa saja yang menghirupnya, terdapat kelompok masyarakat tertentu yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi terhadap risiko gangguan kesehatan fatal:

  1. Bayi dan Anak-Anak: Sistem kekebalan tubuh dan saluran pernapasan mereka masih berada dalam tahap perkembangan, serta laju napas anak yang lebih cepat membuat mereka menghirup lebih banyak udara per kilogram berat badan.

  2. Lanjut Usia (Lansia): Penurunan fungsi organ tubuh dan penurunan sistem imun secara alami membuat lansia kesulitan merespons peradangan akibat debu atau asap.

  3. Ibu Hamil: Paparan asap pembakaran dapat memicu gangguan kesehatan pada ibu sekaligus berisiko memengaruhi perkembangan janin dalam kandungan.

  4. Penderita Disease Komorbid: Individu yang memiliki riwayat medis seperti asma, bronchitis kronis, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), atau penyakit jantung sangat berisiko mengalami kekambuhan mendadak.

Gejala ISPA yang Perlu Diwaspadai

Masyarakat disarankan untuk peka terhadap tanda-tanda gangguan pernapasan sejak dini agar pertolongan medis dapat segera diberikan. Gejala ISPA akibat paparan kabut asap karhutla meliputi:

  • Batuk kering maupun batuk berdahak.

  • Rasa perih, gatal, atau nyeri pada tenggorokan.

  • Hidung tersumbat, bersin-bersin, atau pilek.

  • Sesak napas atau dada terasa berat saat menarik napas.

  • Demam tinggi yang disertai sakit kepala dan nyeri sendi.

  • Mata pedih, berair, atau merah akibat iritasi langsung partikel asap.

  • Tubuh terasa sangat lemas dan mudah lelah.

Jika muncul tanda-tanda bahaya seperti napas cepat, bibir atau kebiruan pada kuku, demam menetap lebih dari tiga hari, atau penurunan kesadaran, penderita harus segera dilarikan ke instalasi gawat darurat atau puskesmas terdekat.

Panduan Langkah Pencegahan ISPA

Untuk menekan angka kesakitan dan meminimalkan paparan racun udara di lingkungan pemukiman, langkah-langkah pencegahan mandiri berikut sangat disarankan:

  • Batasi Aktivitas di Luar Ruangan: Kurangi jadwal berada di luar rumah, terutama ketika pemantauan indeks standar pencemar udara (ISPU) menunjukkan kategori tidak sehat atau berbahaya.

  • Gunakan Masker yang Tepat: Jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, gunakan masker berkualitas seperti masker standar N95 atau masker medis minimal dua lapis untuk menyaring partikel debu halus.

  • Tutup Ventilasi Rumah Saat Asap Pekat: Tutup pintu, jendela, dan celah rumah saat kabut asap tebal mengelilingi pemukiman. Manfaatkan penyaring udara (air purifier) di dalam ruangan jika tersedia.

  • Perbanyak Konsumsi Air Putih: Mengonsumsi air putih secara cukup dapat membantu menjaga kelembapan tenggorokan dan mempercepat pengeluaran racun dari dalam tubuh.

  • Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): Rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, serta mengonsumsi makanan bergizi kaya antioksidan seperti buah dan sayuran untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

  • Hindari Memperburuk Polusi Dalam Ruangan: Jangan merokok di dalam rumah, hindari membakar sampah, serta minimalkan penggunaan obat nyamuk bakar yang dapat menambah kepekatan asap di dalam rumah.

MF
M FadliEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update