Atasi Karhutla Tanjung Puting, Kemenhut Terjunkan 160 Personel dan Digali 30 Sumur Bor
JAKARTA — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, terus ditingkatkan secara intensif. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bergerak cepat dengan menerjunkan sedikitnya 160 personel tim darat serta memfasilitasi pembuatan 30 titik sumur bor guna menyuplai kebutuhan air pemadaman di area-area krusial.
Langkah taktis ini diambil guna membendung pergerakan lidah api agar tidak menembus serta merusak zona inti pelestarian keanekaragaman hayati dan habitat satwa dilindungi di kawasan konservasi tersebut.
Langkah intersepsi pergerakan api menjadi fokus prioritas dalam strategi pemadaman darat. Penambahan armada alat berat seperti ekskavator disiagakan untuk membuat sekat bakar (firebreak) secara massif demi menghentikan penyerbaran api yang dipicu oleh cuaca kering dan angin.
Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa pemutusan pergerakan utama api menjadi kunci utama agar dampak kerusakan lingkungan tidak kian meluas.
"Sekarang kita coba memutus kepala apinya. Kepala apinya yang kita putus dengan kecepatan, menggunakan alat berat supaya menghindari mudarat yang lebih besar lagi. Ini akan tambah nanti ada mungkin 4-5 ekskavator lagi untuk menyekat apinya," ujar Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni.
Pemetaan Titik Krusial dan Penguatan Suplai Air
Dalam pelaksanaan operasi lapangan, kawasan Pesalat menjadi salah satu fokus perhatian utama petugas. Letak geografis kawasan Pesalat yang sangat berdekatan dengan feeding area atau zona pemberian pakan satwa liar menjadikannya area bernilai tinggi yang wajib dilindungi dari paparan asap dan kobaran api.
Untuk memastikan ketersediaan pasokan air di area-area gersang yang sulit dijangkau, penggalian 30 sumur bor terus dikebut. Sumur-sumur air buatan tersebut difungsikan sebagai penyokong utama bagi petugas pemadam darat (ground suppression team) saat melakukan pembasahan (rewetting) pada lahan gambut yang rawan terbakar kembali. Pemetaan titik-titik rawan api juga terus diperbarui menggunakan pemantauan udara via drone thermal agar penanganan tepat sasaran.
Selain pengerahan personel dari Kemenhut dan Manggala Agni, penanganan kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting ini turut melibatkan sinergi lintas instansi, termasuk unsur TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Raja Juli Antoni mengapresiasi kolaborasi erat seluruh elemen pemerintah dan aparat keamanan yang bekerja tanpa kenal lelah di lokasi kebakaran.
“Insya Allah pemerintah pusat, daerah, TNI, Polri, BMKG, BNPB tidak patah semangat, tidak cuci tangan, tidak lepas tangan. Segala upaya yang memang memungkinkan untuk kita lakukan, kita lakukan,” ucapnya.
Kombinasi Operasi Udara dan Modifikasi Cuaca
Selain memaksimalkan pemadaman darat, pemerintah juga terus memantau peluang untuk mengoperasikan helikopter pemadam (water bombing). Kendati demikian, efektivitas pengeboman air dari udara sangat bergantung pada kondisi ketebalan asap serta jarak pandang penerbangan di wilayah udara sekitar.
Jika kondisi ketebalan kabut asap dinilai aman untuk manuver helikopter, maka penyiraman dari udara akan langsung dikerahkan secara maksimal ke titik-titik api yang sulit dijangkau oleh tim darat.
"Kita akan terus berusaha ketika nanti ada celah untuk waterbombing turun. Kita turun, jadi tidak kurang-kurang," tegasnya.
Guna mempercepat proses pembentukan awan hujan alami, pemerintah juga terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Penyemaian garam halus (NaCl) ke awan-awan potensial intensif dilakukan untuk memicu hujan buatan serta meningkatkan kelembapan vegetasi hutan.
"Apakah itu dari kebupaten yang ada Karhutla atau tidak, tetap kita semai (garam ke awan potensial) untuk melakukan pelembapan," tuturnya.
Respons Terhadap Tanggapan Publik
Di tengah kepungan kabut asap yang melanda sejumlah wilayah terdampak, perhatian dan kritik dari masyarakat luas maupun berbagai elemen publik terus berdatangan. Menhut menyikapi beragam masukan dan saran tersebut secara terbuka dan menganggapnya sebagai dorongan moral bagi seluruh tim satgas yang bekerja keras di medan kebakaran.
"Kritik itu adalah vitamin, obat untuk memotivasi kami untuk bekerja lebih keras," pungkasnya.
Upaya terpadu melalui pembukaan akses sumber air sumur bor, penyekatan parit/jalur api menggunakan ekskavator, pengerahan ratusan pasukan darat, hingga OMC ini diharapkan mampu memadamkan bara api sepenuhnya dan menyelamatkan ekosistem unik Taman Nasional Tanjung Puting dari kerusakan yang lebih parah.
