Ekonomi Vietnam Tumbuh Lebih Cepat, Indonesia Hadapi Tantangan Tingkatkan Daya Saing
monitorkayong.com – Indonesia dan Vietnam menempuh strategi pembangunan ekonomi yang berbeda untuk mendorong pertumbuhan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Indonesia mengandalkan delapan misi Asta Cita dengan dukungan APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun, sedangkan Vietnam memprioritaskan pembenahan kelembagaan, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Perbedaan strategi tersebut menjadi sorotan di tengah kesenjangan pertumbuhan ekonomi kedua negara. Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 9,95 persen pada kuartal III 2026, sementara Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II tahun yang sama.
Berdasarkan data yang disajikan, ekonomi Vietnam tumbuh 9,01 persen selama Januari hingga September 2026. Adapun ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan 5,45 persen sepanjang semester I 2026.
Perbedaan periode pelaporan tersebut perlu diperhatikan dalam membandingkan kinerja ekonomi kedua negara. Meski demikian, data tersebut memberikan gambaran mengenai tantangan Indonesia dalam meningkatkan produktivitas, memperluas pasar ekspor, dan memperkuat sektor industri bernilai tambah tinggi.
Industri dan Ekspor Jadi Penggerak Vietnam
Sektor industri dan konstruksi menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi Vietnam. Pada Januari–September 2026, sektor tersebut tumbuh 11,21 persen dan menyumbang 49,62 persen terhadap pertambahan nilai ekonomi.
Aktivitas perdagangan Vietnam juga menunjukkan peningkatan. Ekspor barang selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai US$434,30 miliar, naik 24,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, impor Vietnam meningkat lebih tinggi, yakni 36,7 persen, menjadi US$453,72 miliar. Kondisi tersebut membuat negara itu mencatat defisit perdagangan barang sekitar US$19,42 miliar.
Tingginya ekspor mencerminkan kuatnya aktivitas produksi dan perdagangan Vietnam. Di sisi lain, peningkatan impor menunjukkan besarnya kebutuhan barang dari luar negeri untuk mendukung kegiatan industri dan perekonomian.
Indonesia Bertumpu pada Konsumsi dan Investasi
Sementara itu, perekonomian Indonesia masih ditopang oleh permintaan domestik, investasi, dan belanja pemerintah.
Pada kuartal II 2026, konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen secara tahunan. Pembentukan modal tetap bruto (PMTB), yang menjadi salah satu indikator investasi fisik, juga meningkat 6,87 persen.
Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II dan mencapai 5,45 persen sepanjang semester pertama 2026.
Angka tersebut menunjukkan perekonomian Indonesia tetap tumbuh di atas 5 persen. Namun, peningkatan daya saing industri dan perluasan pasar ekspor menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.
Penguatan sektor bernilai tambah tinggi juga diperlukan agar aktivitas ekonomi mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja produktif serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Perbedaan Strategi Pembangunan
Indonesia menjalankan pembangunan melalui delapan misi Asta Cita yang menjadi arah kebijakan pemerintah. Pelaksanaannya didukung APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun untuk membiayai berbagai program dan prioritas pembangunan nasional.
Di sisi lain, Vietnam mendorong tiga terobosan strategis yang berfokus pada kelembagaan, infrastruktur, dan sumber daya manusia. Pendekatan tersebut diarahkan untuk memperkuat fondasi pembangunan dan mendukung kegiatan ekonomi produktif.
Perbedaan strategi ini menunjukkan bahwa besarnya anggaran dan luasnya program pembangunan perlu diikuti efektivitas pelaksanaan, peningkatan produktivitas, serta kemampuan menghasilkan nilai tambah.
Bagi Indonesia, tantangan ke depan tidak hanya mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, tetapi juga memperkuat industri nasional, meningkatkan daya saing produk ekspor, dan memastikan investasi memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Dengan demikian, pengalaman Vietnam dapat menjadi bahan perbandingan dalam mengevaluasi kebijakan pembangunan Indonesia, tanpa mengabaikan perbedaan struktur ekonomi, kondisi domestik, dan periode pengukuran kedua negara.
