Gambut Kayong Utara Makin Rentan Terbakar, Aktivitas Kanal Jadi Sorotan
MONITORKAYONG – Kondisi kawasan gambut di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, kembali menjadi perhatian. Lembaga swadaya masyarakat Link-AR Borneo menilai kerusakan ekosistem gambut tidak terlepas dari aktivitas pembukaan lahan dan kanalisasi yang berlangsung di kawasan tersebut.
Direktur Eksekutif Link-AR Borneo Ahmad Syukri mengatakan kondisi gambut yang semakin terdegradasi membuat kawasan tersebut lebih rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat musim kemarau.
Salah satu perusahaan yang aktivitasnya menjadi sorotan Link-AR Borneo adalah PT Mayawana Prasada, pemegang izin Hutan Tanaman Industri (HTI). Menurut Ahmad, pengeringan gambut akibat pembangunan kanal dapat mengubah karakter alami ekosistem dan meningkatkan potensi kebakaran.
Namun, ia menegaskan persoalan tersebut tidak semestinya hanya diarahkan kepada pihak perusahaan. Pemerintah sebagai pihak yang memberikan izin juga dinilai memiliki tanggung jawab terhadap pengelolaan kawasan.
“Protes ini sebenarnya sudah lama kita layangkan, baik ke perusahaan maupun ke pemerintah. Ada dua pihak yang mesti bertanggung jawab terhadap kerusakan ekosistem gambut di Kayong Utara, yaitu pemilik izin, PT Mayawana Prasada, dan pemberi izin, dalam hal ini pemerintah,” ujar Ahmad Syukri seperti dilasir dari kalbaronline.com.
Dari sisi ekologis, gambut sebenarnya memiliki kemampuan menyimpan air yang sangat tinggi. Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Profesor Dwi Astiani, menjelaskan bahwa gambut yang masih dalam kondisi alami cenderung selalu basah karena air berada dekat dengan permukaan.
“Kalau kawasan gambut masih asli, tinggi airnya hampir mendekati permukaan. Jadi dia selalu basah,” kata Profesor Dwi Astiani.
Masalah muncul ketika kawasan gambut dibuka dan dibuat kanal untuk mengalirkan air. Apabila kanal tersebut tidak dilengkapi bangunan pengatur tata air, permukaan air gambut dapat terus mengalami penurunan.
“Kalau dibangun kanal tapi tidak dibangun (pengatur air-red), lama-kelamaan airnya akan turun sampai sedalam paritnya,” jelasnya.
Gambut yang kehilangan air kemudian menjadi lebih kering dan mudah terbakar. Bahkan, menurut Dwi, sumber api yang kecil pun dapat dengan cepat menjadi pemicu kebakaran.
“Orang menyulut api sedikit saja itu bahan bakar yang paling potensial,” ujarnya.
Berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa, api di kawasan gambut dapat menjalar hingga ke lapisan bawah permukaan. Kondisi tersebut membuat titik kebakaran lebih sulit terlihat dan proses pemadamannya menjadi lebih rumit.
Dwi menjelaskan panas dari api dapat membuat gambut di sekelilingnya ikut mengering. Kondisi ini kemudian membuat kebakaran semakin mudah meluas.
“Kalau sudah apinya mulai menyala, dia mulai memanaskan sekitarnya, kering gambutnya dan seterusnya menjadi besar apinya, mengeringkan sekelilingnya. Lama-lama enggak bisa kita kendalikan,” katanya.
Karena itu, menjaga air tetap berada di dalam ekosistem gambut menjadi salah satu upaya penting dalam mencegah kebakaran. Kanal yang sudah dibangun perlu dilengkapi dengan sistem pengendalian air agar tidak menyebabkan gambut kehilangan kelembapannya.
“Jadi dipasang penahan air sehingga dia tidak mengering airnya,” ujarnya.
Dampak kerusakan gambut juga tidak mudah dipulihkan. Dwi menjelaskan bahwa gambut terbentuk secara perlahan dalam kondisi hutan alami, dengan pertambahan ketebalan hanya sekitar 2 hingga 3 milimeter per tahun.
Sementara ketika terjadi kebakaran, lapisan gambut dapat hilang dalam waktu yang jauh lebih cepat.
“Kita bayangkan dalam kebakaran satu menit, sepuluh menit sudah 15 sentimeter hilang,” katanya.
Di Kalimantan Barat, gambut merupakan ekosistem yang terbentuk selama ribuan tahun. Usianya diperkirakan mencapai 5.000 hingga 10.000 tahun. Kerusakan akibat kebakaran dengan demikian membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk dipulihkan.
“Untuk gambut kembali itu sepertinya memerlukan waktu yang sangat-sangat lama, berabad-abad,” ujarnya.
Selain menjadi sumber kerawanan karhutla, gambut yang rusak juga kehilangan sebagian fungsi alaminya sebagai penyimpan air. Dalam kondisi sehat, gambut mampu menyerap dan menahan air hujan. Ketika rusak, kemampuan tersebut berkurang dan limpasan air menuju wilayah hilir dapat meningkat.
Dwi mengingatkan agar seluruh pihak lebih berhati-hati dalam mengelola kawasan gambut yang memiliki karakteristik ekologis sensitif.
“Semua harus pintar dalam mengelola gambut,” tegasnya.
Ia menilai perlindungan tata air dan pencegahan kebakaran menjadi bagian penting dalam menjaga gambut, terlebih ketika memasuki musim kemarau. Ekosistem yang terbentuk selama ribuan tahun itu, menurutnya, dapat mengalami kerusakan dalam waktu yang sangat singkat ketika kebakaran terjadi.
