Karhutla Kalbar Ancam Habitat Orangutan, 51 Ekor Dievakuasi
monitorkayong.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat, mengancam kelangsungan hidup orangutan Kalimantan. Sebanyak 51 orangutan telah dievakuasi dari sejumlah lokasi terdampak kebakaran, termasuk kawasan perkebunan kelapa sawit PT KALE.
Dari jumlah tersebut, 30 orangutan ditemukan di dalam maupun sekitar kawasan perkebunan PT KALE, termasuk area bernilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV).
Berdasarkan analisis citra satelit periode 1 Agustus hingga 25 September 2026, lebih dari 90 persen kawasan HCV PT KALE dilaporkan terbakar. Kerusakan habitat ini menyebabkan orangutan kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan, sehingga sebagian satwa terpaksa mendekati perkebunan maupun permukiman warga.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) terus melakukan pemantauan dan penyelamatan terhadap orangutan yang terdampak kebakaran.
Empat Orangutan Kembali Diselamatkan
Tim gabungan menyelamatkan empat orangutan di Kabupaten Ketapang pada 10 dan 16 Oktober 2026. Keempatnya terdiri atas dua orangutan remaja betina bernama Lusi dan Riri, serta induk dan anak bernama Mama Rian dan Rian.
Lusi dan Riri ditemukan tanpa induknya di kawasan HCV PT KALE, Desa Laman Satong. Sementara Mama Rian dan Rian ditemukan di kebun warga Desa Riam Berasap, sekitar 1,5 kilometer dari perkebunan tersebut.
CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, mengatakan Lusi ditemukan dalam kondisi kurus dan mengalami stres. Orangutan berusia sekitar 4–6 tahun itu bertahan di sebuah pohon yang masih berdiri di tengah kawasan hutan yang terbakar.
Pemeriksaan medis menemukan sejumlah luka gores dan luka terbuka pada tubuh Lusi, termasuk di bagian punggung, bibir, dan anus. Luka tersebut diduga akibat gigitan satwa, kemungkinan anjing.
Lusi juga mengalami dehidrasi dan kekurangan nutrisi. Tim medis memberikan penanganan awal berupa pembersihan luka dan antibiotik sebelum membawanya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI di Ketapang.
Sementara itu, Riri ditemukan di pohon kelapa sawit dalam kondisi dehidrasi dan ketakutan. Tim tidak menemukan tanda-tanda keberadaan induknya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena anak orangutan umumnya masih bergantung pada induknya hingga usia sekitar 6–7 tahun.
Pemeriksaan terhadap Mama Rian dan Rian juga menunjukkan keduanya memiliki kondisi tubuh yang sangat kurus.
Habitat Orangutan Terancam Hilang
Kerusakan kawasan HCV PT KALE menjadi ancaman serius bagi populasi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Sebuah publikasi ilmiah pada 2016 memperkirakan kawasan tersebut menjadi habitat sekitar 150 individu orangutan, dengan kepadatan rata-rata 5,49 individu per kilometer persegi.
Hilangnya hutan membuat orangutan kehilangan tempat bersarang, sumber pakan, dan ruang untuk bergerak. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan satwa memasuki kawasan perkebunan atau permukiman, sekaligus memperbesar risiko konflik dengan manusia.
Salah satu orangutan bernama Sempurna dilaporkan mati akibat dampak asap karhutla. Satwa tersebut ditemukan di Desa Kuala Satong, sekitar 1–2 kilometer dari konsesi PT KALE.
Tim gabungan juga menemukan dugaan tengkorak orangutan di kawasan HCV pada 8 Oktober 2026. Temuan tersebut telah dievakuasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Identitas spesies, penyebab, serta perkiraan waktu kematian masih menunggu hasil pemeriksaan forensik.
Sebanyak 27 Orangutan Masih Dirawat
YIARI melaporkan sebanyak 27 orangutan yang diselamatkan dari kawasan perkebunan PT KALE dan sekitarnya masih menjalani perawatan di pusat rehabilitasi di Ketapang karena kondisi kesehatannya kurang baik.
Tim gabungan juga terus memantau orangutan yang diduga masih bertahan di kawasan HCV yang terbakar. Pemantauan dilakukan melalui pengamatan lapangan dan laporan masyarakat, termasuk informasi mengenai orangutan yang memasuki permukiman serta merusak tanaman warga.
Karmele mengatakan, upaya penyelamatan masih perlu dilanjutkan karena sejumlah orangutan diduga belum berhasil dievakuasi.
Asap yang masih tebal dan titik-titik tanah yang mengeluarkan asap menjadi kendala bagi satwa maupun tim penyelamat. Orangutan harus bertahan di kawasan yang kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung, sementara kondisi lahan masih berisiko akibat panas dan sisa bara.
YIARI juga menyoroti perlunya persiapan dan komunikasi yang lebih baik dari pihak perusahaan dalam menghadapi kebakaran di kawasan tersebut.
BKSDA Tekankan Perlindungan Kawasan Konservasi
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengatakan habitat orangutan tidak hanya berada di kawasan konservasi, tetapi juga di hutan lindung, hutan produksi, konsesi perkebunan, dan area penggunaan lain.
Karena itu, perusahaan yang memiliki kawasan bernilai konservasi tinggi perlu memastikan area tersebut tetap berfungsi melindungi keanekaragaman hayati.
Menurut Murlan, perlindungan habitat orangutan perlu dilakukan melalui pemeliharaan koridor satwa, pencegahan alih fungsi hutan, pengamanan berkala, penanaman pohon lokal sebagai sumber pakan, serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Kawasan HCV yang terdampak karhutla juga perlu segera direstorasi untuk memulihkan fungsi ekologisnya.
Sementara itu, tim gabungan masih melanjutkan pemantauan dan penyelamatan orangutan di kawasan HCV PT KALE, terutama terhadap satwa yang membutuhkan evakuasi dan penanganan medis segera.
