Kunjungan Pastoral ke IKN, Kardinal Suharyo Soroti Potensi Basilika Pertama Indonesia
PENAJAM PASER UTARA — Proyek pembangunan sarana ibadah di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, menorehkan sejarah baru bagi umat Katolik di Tanah Air. Gereja Santo Fransiskus Xaverius yang saat ini tengah dibangun di area kompleks peribadatan IKN disiapkan untuk diproyeksikan sebagai basilika pertama yang berdiri di Indonesia.
Kepastian perkembangan infrastruktur keagamaan tersebut ditinjau langsung oleh Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, dalam agenda kunjungan pastoralnya di kawasan inti IKN. Dalam kesempatan tersebut, Kardinal Suharyo melihat dari dekat kemajuan pembangunan fisik gereja seraya berdampingan dengan pejabat pemerintah local dan otoritas pembangunan kawasan.
Pendampingan langsung dilakukan oleh Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), Basuki Hadimuljono, yang menunjukkan secara detail tahap-tahap konstruksi serta desain arsitektur yang diterapkan pada bangunan ibadah tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam merealisasikan pusat peribadatan multagama yang inklusif di wilayah ibu kota anyar.
Status sebagai basilika merupakan gelar kehormatan khusus dari Takhta Suci Vatikan yang diberikan kepada gereja-gereja Katolik dengan nilai sejarah, arsitektur, atau spiritualitas yang sangat penting. Selama ini, Indonesia belum memiliki gereja dengan tingkatan atau status gelar basilika tersebut. Oleh karena itu, penetapan Gereja Santo Fransiskus Xaverius IKN nantinya dinilai akan menjadi tonggak sejarah penting bagi gereja Katolik nasional.
Kendati prospek penetapan status tersebut sangat terbuka lebar, Kardinal Suharyo menggarisbawahi bahwa penetapan resmi sebuah rumah ibadah menjadi basilika memerlukan pemenuhan kriteria dan prosedur administrasi yang cukup ketat dari otoritas Gereja Katolik Roma. Berbagai aspek teknis, fungsi pastoral, hingga kelengkapan sarana pendukung harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum pengajuan resmi diproses.
Melihat kerja keras para pekerja konstruksi dan keseriusan pihak pengelola dalam membangun kawasan ibadah ini, Kardinal Suharyo mengapresiasi tinggi dedikasi serta sinergi yang terjalin dalam proyek tersebut. Beliau memberikan pandangan dan tanggapannya secara langsung saat berada di lokasi:
“Dari keterangan Bapak Basuki, saya merasa semua yang bekerja di sini sungguh-sungguh berusaha sebaik-baiknya. Tentu syukur, karena di dalam kompleks IKN ini ada gereja yang begitu besar, yang akan diresmikan sebagai basilika. Kalau nanti itu terjadi, inilah satu-satunya basilika di Indonesia,” ujar Kardinal Suharyo.
Kunjungan ini juga menjadi momen perdana bagi Kardinal Suharyo menyaksikan secara langsung fisik dari Ibu Kota Nusantara. Sebelumnya, ia mengaku hanya memantau perkembangan megaproyek pemindahan ibu kota tersebut lewat pemberitaan di berbagai media massa. Pemimpin Umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta tersebut menyoroti arti strategis keberadaan IKN bagi Indonesia ke depan.
“Saya belum pernah ke sini, hanya membaca dari koran dan melihat di televisi. Ini tentu suatu pembangunan masa depan yang sudah dibutuhkan,” pungkasnya.
Secara arsitektural, pembangunan tempat ibadah di IKN tidak berdiri secara terisolasi, melainkan dirancang mengusung prinsip inkulturasi budaya Nusantara. Konsep ini memadukan nilai keagamaan universal dengan unsur-unsur kearifan lokal daerah, sehingga menampilkan identitas keindonesiaan yang kental.
Tidak hanya Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius, kompleks rumah ibadah di Nusantara disiapkan berdampingan dengan fasilitas peribadatan agama lain. Salah satu elemen utama penguat kerukunan yang dibangun adalah Plaza Kerukunan, sebuah area terbuka yang menghubungkan secara langsung antar-bangunan rumah ibadah.
Langkah tata ruang ini dirancang untuk menciptakan ruang interaksi sosial antarumat beragama yang harmonis. Kehadiran simbol-simbol keagamaan berskala nasional di IKN diharapkan mampu menegaskan pesan toleransi dan keberagaman yang menjadi fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Melalui pemenuhan sarana spiritual yang memadai, IKN tidak hanya diposisikan sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi modern, melainkan juga sebagai simbol keharmonisan sosial yang merepresentasikan semangat kemajemukan bangsa. Peninjauan langsung Kardinal Suharyo ini menandai optimisme tinggi terhadap penyelesaian infrastruktur keagamaan yang berkualitas tinggi sekaligus bernilai historis bagi seluruh masyarakat.
