Sabtu, 24 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Satgas Gabungan Satpol PP Kalbar dan Manggala Agni Berjibaku Padamkan Karhutla di Tiga Kabupaten

✍️ M Fadli 🕒 13 Oct 2026 👁️ 6x dibaca
Satpol PP Kalbar dan Manggala Agni
Satpol PP Kalbar dan Manggala Agni Foto: kalbar.antaranews.com

PONTIANAK — Satuan Tugas (Satgas) Darat Terpadu Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Kalimantan Barat terus mengintensifkan aksi pemadaman di lapangan. Personel gabungan yang terdiri dari Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) Satpol PP Provinsi Kalbar bersama regu Manggala Agni Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dikerahkan secara serentak untuk menanggulangi amukan si jago merah yang melahap kawasan hutan dan lahan di tiga wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Ketapang, dan Kabupaten Mempawah.

Upaya penanggulangan karhutla di wilayah Kalimantan Barat tersebut difokuskan pada titik-titik rawan yang mengancam ekosistem serta permukiman warga. Dalam operasinya, para petugas Satgas Darat Terpadu harus menghadapi berbagai hambatan fisik dan geografis yang cukup berat di area kebakaran. Meski demikian, koordinasi ketat antara Satpol PP Kalbar dan Manggala Agni terus dijalankan guna memastikan kobaran api tidak meluas dan merembet ke kawasan pemukiman penduduk maupun fasilitas umum lainnya.

Selain mengerahkan kekuatan personil darat secara masif, strategi penanganan di lapangan juga memprioritaskan pemadaman langsung di titik api (outbreak) utama. Di berbagai lokasi, tim gabungan harus melakukan lokalisasi area yang terbakar dengan membuat sekat bakar buatan serta memaksimalkan penggunaan sarana mesin pompa air bergerak guna memutus jalur penyebaran api pada vegetasi gambut yang sangat mudah terbakar.

Kondisi Medan Ekstrem dan Tantangan Operasional

Pelaksanaan tugas pemadaman di area karhutla Kalimantan Barat bukanlah hal yang mudah. Kondisi topografi lahan yang didominasi oleh tanah gambut dalam serta belum tersedianya akses jalan darat yang memadai menuju titik lokasi kebakaran menjadi kendala utama yang harus ditaklukkan oleh seluruh personel di lapangan.

Tidak jarang, para petugas Manggala Agni bersama jajaran Satpol PP Kalbar harus menembus belantara dan rawa dengan berjalan kaki menempuh jarak berkilometer-kilometer sambil memikul peralatan pemadaman yang berat. Apabila jalur darat sepenuhnya terisolasi dan tidak mungkin dilalui oleh kendaraan maupun jalan kaki, tim gabungan memanfaatkan jalur perairan sungai atau terusan rawa menggunakan perahu demi mencapai titik kebakaran.

Tantangan operasional tersebut semakin diperberat oleh minimnya ketersediaan sumber air akibat musim kemarau panjang yang melanda kawasan Kalimantan Barat. Banyak parit, sungai kecil, dan embung alami di sekitar lokasi kebakaran mengalami kekeringan drastis. Untuk mengatasinya, tim pengendali karhutla memanfaatkan sumur bor yang sebelumnya telah dibangun di wilayah-wilayah rawan sebagai tumpuan pasokan air guna menyuplai selang pemadam.

Selain itu, faktor cuaca ekstrem serta arah angin yang berubah-ubah dengan cepat kerap menyulitkan proses pembasahan lahan. Asap pekat dan tebal yang menyelimuti area pemadaman juga menurunkan jarak pandang (visibility) petugas secara signifikan, sehingga menuntut kewaspadaan tinggi demi menjaga keselamatan seluruh personel Satgas.

Dedikasi Tanpa Henti dan Keterlibatan Masyarakat

Di tengah tingkat risiko keselamatan yang cukup tinggi, jajaran petugas pemadam tetap konsisten berada di garis terdepan. Operasi pemadaman tidak hanya terbatas pada siang hari saat matahari terik, tetapi sering kali berlanjut hingga malam hari. Langkah ini diambil guna memanfaatkan kondisi suhu udara malam yang cenderung lebih dingin untuk meredam potensi gejolak api yang tersembunyi di bawah permukaan tanah gambut.

Menanggapi besarnya dinamika dan tantangan yang dialami personel di lapangan, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudo Shekti Mutiko, menyampaikan situasi serta komitmen jajarannya.

Ia menegaskan perihal kondisi aksesibilitas yang membatasi pergerakan tim di lapangan:

"Tantangan yang utama itu aksesibilitasnya luar biasa. Tidak semua bisa kita jangkau. Tapi biarpun sulit-sulitnya dijangkau, kita tetap berupaya. Mau lewat air kita kerjain juga," katanya.

Lebih lanjut, Yudo juga menjelaskan arahan khusus pimpinan puncaknya mengenai pentingnya membangun kolaborasi erat bersama warga lokal dalam setiap tindakan pengendalian karhutla:

"Pemadaman terus dilakukan. Apalagi juga Pak Menteri kan juga menugaskan kami untuk membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) dan juga melibatkan masyarakat itu di kegiatan-kegiatan pemadaman," ujar Yudo kepada detikKalimantan, Minggu (11/10/2026).

Ia juga menggarisbawahi kegigihan seluruh regu pemadam yang pantang surut meski harus berhadapan dengan situasi ekstrem serta risiko kerja yang sangat mengancam:

"Kesulitan ada, tapi bukan berarti kita nggak berupaya ya, kita tetap lakukan terus. Terus teman-teman juga kayak jangankan siang, malam juga dikerjakan. Kalau yang lain mundur, Manggala Agni tetap bertahan biarpun ada risiko keselamatan. Tapi mereka tetap mengerjakan itu," pungkasnya.

Sinergi Lintas Sektor Penanganan Karhutla

Keberhasilan penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat sangat bergantung pada soliditas sinergi lintas instansi. Pembentukan Satgas Darat Terpadu yang mengintegrasikan unsur Linmas Satpol PP Provinsi Kalbar, Manggala Agni Kemenhut, Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD), hingga jajaran TNI dan Polri menjadi pilar utama dalam meredam dampak buruk kebakaran.

Upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla ini turut ditunjang oleh partisipasi aktif dari Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa. Pelibatan warga lokal terbukti meningkatkan efektivitas pembasahan dan pengawasan titik api dini sebelum membesar dan sulit dikendalikan.

Pemerintah Daerah Kalimantan Barat mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran bersama dengan tidak melakukan pembukaan lahan menggunakan metode pembakaran. Langkah pencegahan ini dinilai sangat krusial mengingat dampak buruk kabut asap tidak hanya merusak kelestarian lingkungan dan mengganggu aktivitas ekonomi, tetapi juga membawa risiko serius bagi kesehatan masyarakat luas. Kebijakan patroli berkala di wilayah rawan kebakaran akan terus diperketat seiring dengan berlanjutnya operasi pemadaman di Kabupaten Kubu Raya, Ketapang, dan Mempawah.

MF
M FadliEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update